Review 2018

Beberapa tahun terakhir, perasaan paling dominan yang saya rasakan saat akhir tahun adalah sedih dan menyesal. Tahun 2018 juga begitu, sama. Sedih dan menyesal karena hal yang sama: I wish I could do more.

Skip, saya akan mulai mencatat year-in-review untuk 2018. Biar kayak orang-orang. Karena saya tidak serajin itu, jadi saya hanya akan membahas garis besar 2018 saya ini seperti apa. Highlight-nya gimana.

Menjilat air liur sendiri

Kurang lebih seperti itulah 2018 saya. Sebelumnya bisa dibilang benci (eh bukan benci sih, lebih kepada tidak pernah berminat nyemplung ke situ atau berurusan) pada beberapa hal, eh malah setelah mengalami unexpected first encounter, malah keterusan nyemplung.

Hal-hal apa sajakah itu? Tidak semuanya saya ingat, ini hanya yang benar-benar mendominasi 2018 saya saja.

Hallyu

Seingat saya, boomingnya KPOP dan K-Drama itu mulai saya rasakan sejak awal SMA. Tapi, karena waktu itu saya masih asyik sendiri dengan eksplor musik barat dan J-Drama, jadilah waktu SMA, saya satu-satunya perempuan di kelas yang tidak tahu apa-apa soal Korea-koreaan (selanjutnya saya sebut hallyu aja lah). Gak bangga juga sih. Plus, bukan gak tahu apa-apa juga 100%, karena saya masih senang mendengarkan teman-teman bercerita tentang hallyu. Hanya saja waktu itu tidak menonton dan mendengar secara langsung.

Sampai akhir kuliah pun begitu, saya belum tertarik dengan yang namanya hallyu. Terlebih lagi persepsi penikmat kpop dan kdrama di kalangan luas cenderung negatif, kurang lebih sama lah ya dengan persepsi terhadap otaku dan wota. Dipandang sebelah mata seperti makanan mereka sehari-hari. Padahal ya bukankah sejatinya semua orang adalah otaku? Hanya beda otaku-nya apa, gitu aja.

Sampai akhirnya sekitar Q1 2018 saya mulai nonton kdrama. Awalnya sih karena butuh tontonan yang ringan tapi berseri. Waktu itu saya menilai J-Drama sudah tidak se-legend dulu jaman SMA. J-Movie juga begitu.

Sejak 2017 saya sudah nonton variety shows Korea sih beberapa. Running Man, meski cuma cuplikan-cuplikan doang. Sama satu lagi itu The Return of Superman, yang masih saya tonton sampai sekarang.

Drakor pertama (yang tercatat) yang saya tonton itu Dr. Frost. Drama adaptasi dari webtoon. Awalnya ‘nekat’ nonton juga gara-gara udah baca webtoonnya sampai tamat.

Setelah itu keterusan lumayan. Terlebih setelah teman main saya juga nyambung kalo diajak ngomong drakor. Waktu ketemu teman-teman SMA saya juga masih bahas drakor, dan (kali ini) lumayan nyambung deh. Ena.

Film Korea juga mulai ‘rajin’ nonton di awal 2018. Sebelumnya sudah nonton (karena film Korea thriller-nya bagus-bagus) beberapa yang direkomendasikan for starters saja.

Untuk K-Pop, mulai intens sih seingat saya baru sekitar November. Awalnya cuma ingin ‘belajar’ fashion dan outfit yang dipakai para idol. Tapi lagi-lagi keterusan. Pemicu tambahannya adalah karena jenuh dengan western music dan terlalu malas mengulik musik indie Indonesia yang menurut saya butuh effort alias learning curve yang lumayan. Solusinya menurut saya waktu itu ya iseng nyoba ‘maraton’ kpop, karena terbilang fresh di kuping dan tidak butuh learning curve yang lama di otak karena melodi yang catchy. Ya namanya aja k-pop, pop. Beda cerita kalo k-indie.

Namun entah kenapa, sampai saat ini saya menolak disebut kpopers atau tukang nonton drama. Hehe banyak maunya lu

Intinya saya dari dulu main kuantitas sih. Pola saya menggandrungi sesuatu itu loncat-loncat. Misal 2 bulan sibuk nonton drakor, bulan berikutnya ganti nontonin film-film barat lawas klasik.

Saya tidak pernah sekalipun kepikiran bakal kejeblos hallyu lumayan dalam haha. Kenapa saya bilang lumayan dalam? Ya karena saya sudah mengeluarkan uang, waktu, dan tenaga untuk menikmati budaya pop ini. Yang terbaru sih beli album originalnya Red Velvet hehe. Next, nonton konser pun sudah masuk bucket list.

Nanti saya bikin serial bacotan hallyu ah. (update: ga jadi ah, terlalu bau kencur)

Vans

Awal gandrung sepatu branded original, saya demen adidas. Setahun berikutnya, jadi pengabdi Nike. Pokoknya ga pernah kepikiran ke Vans sama sekali. Waktu itu pikir saya Vans ini sepatu apa toh kok banyak banget yang make? Emang seenak itu kah? Di mataku b aja.

Tapi tahun ini malah punya 2 Vans. Walaupun yang 1 sudah dijual dan yang 1 sudah rusak.

Vans pertama saya beli karena penasaran. Vans kedua, saya beli karena rare tapi murah banget. Ya belinya juga yang 2nd.

Karena sudah punya sepatu skate, saya yang banyak maunya ini pun keterusan pengen ngerasain yang namanya skating. Tapi ogah kalo pake skateboard biasa, karena tujuan saya cuma pengen bisa meluncur di jalanan. Pilihan ada di antara beli longboard atau penny board/cruiser board. Akhirnya saya beli penny board.

Modal nonton 2 tutorial di YouTube langsung nekat beli dan coba-coba di komplek rumah. Yang jalan geronjalan karena berpaving. Cupu, jatuh-jatuh sampe sepatu Vans saya bolong dan jebol.

tinggal kenangan

Sampe sekarang pun saya belum pernah cruising di jalan aspal yang mulus dan sepi 🙁

BTT, apakah 2019 saya hendak beli Vans dan ngulik lagi? Karena sejak gapunya sepatu skate lagi itu penny board saya juga ada sarang laba-laba-nya. Gapernah kepake lagi. Bisa sih pake sepatu running atau yang sole-nya gak vulcanized. Tapi saya gak bernyali, wong pake sepatu skate aja keseimbangan masih gak karuan kok. Jawabannya: gak tau, tapi sepertinya gak beli Vans lagi, kecuali…. (halah)


Sebenarnya saya ingin menuliskan resolusi 2019 (sekali lagi, biar kayak orang-orang) di postingan terpisah, tapi malas. Mengakhiri (dan mengawali) tahun dengan malas memang ena. Jadi:

Saya ingin memperkaya diri lagi. Memperkaya diri yang tidak harus menggunakan uang. Berikut target minimalnya untuk 2019. Barangkali bisa menginspirasi (ngana siapa???)

  1. 1 bulan, 1 buku.
    Total dalam setahun setidaknya sudah baca 12 buku. Tahun 2018 ini memalukan, kalau tidak salah hanya sekitar 3-5 buku. Sedih.
  2. 1 tahun, 150 film.
    Tahun 2018 (menurut pencatatan yang saya lakukan pada situs Letterboxd), saya telah menonton 97 film saja. Sedih (lagi).
  3. 1 tahun, 25 serial.
    Bebas sih serial apa saja. Entah itu variety show (per season saya hitung 1), serial TV, atau webseries (Netflix Originals ini saya hitung webseries deh hehe). Dari negara mana saja. Karena belum nemu situs semacam Letterboxd untuk serial film, jadi sementara saya melakukan pencatatan secara manual di Evernote. Saya sudah memulainya sejak Q3 2018.

Sebenarnya ingin menambahkan jumlah postingan yang setidaknya harus saya tulis di blog ini dalam setahun. Tapi gak jadi. Beban berat hehe.

Sudah deh itu saja. Untuk resolusi yang terkait dengan kehidupan pribadi (contoh: menikah, traveling ini itu, beli ini itu) saya biarkan mengalir saja biar tidak kepikiran berlebih. Sip.